Minggu, 03 November 2013

Pendidikan Multikultural


MAKALAH
KEBUDAYAAN KOREA
                                                   ( Pakaian )
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Multikultural
Dibimbing Oleh : Liastuti Ustianingsih ,SS

Oleh :
         Frisca Rimadyah                               (130404020188)
         Wirintanthi Ha’inna Makhunti       (130404020182)
         Andri Suliana                                    (130404020190)
         David Isbiantoro                               (130404020154)
         Moh.Muhlis                                       (130404020180)


UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
FAKULTAS EKONOMI PRODI AKUNTANSI
Oktober,2013

KATA PENGANTAR

            Dengan Mengucap Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kami semua, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Laporan Penelitian Tentang “ Kebudayaan Korea” dengan tepat waktu.

            Dalam makalah ini membahas tentang budaya masyarakat korea dalam hal berpakaian. Dengan semakin berkembangnya zaman dan teknologi masa kini membuat para masyarakat sedikit melupakan budaya tradisional yang telah lahir dari sekian tahun lamanya dan beralih dengan budaya modern. Cara mereka yang berpakaian layaknya seperti dikerajaan dengan berpakaian hanbox sekarang mulai jarang dijumpai. Para masyarakat lebh suka memakai dres atau baju-baju modren daripada memakai pakaian hanbox.

            Sehubungan dengan hal tersebut dengan menyusun makalah ini kami bertujuan  memberikan masukan dan penjelasan bahwa kebudayaan tradisional / adat itu penting untuk dikembangkan dan ditanamkan sejak dini.
           
            Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah inin dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhloi segala usaha kami. Amin





DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
         Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
         Rumusan Masalah. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
BAB II PEMBAHASAN
         Sejarah Terbentuknya Negara Korea. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
         Budaya Apa Saja Yang Ada Di Negara Korea . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
         Budaya Pakaian Adabt Negara Korea . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
         Bagian dari Pakaian adabt Negara Korea . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
         Perubahan Pakaian Adabt Korea Menjadi Korea Modern . . . . . . . . . . .
BAB III PENUTUP
                     Kesimpulan     . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .








BAB I
PENDAHULUAN
         Latar Belakang
Korea atau sewaktu bersatunya dikenal sebagai Choson, negeri yang dijuluki
Land Of Morning Calm memiliki kebudayaan yang tak ternilai harganya. Sebut saja contohnya adalah Kuil Bulguksa, Observatorium tertua di dunia-Ch’omsongdae, hingga Tugu Ssanggyong.

Itu baru kebudayaan berwujud fisik belum lagi kebudayaan yang bersifat imaterial atau dengan kata lain kebudayaan ideal. Karena memang kebudayaan tidak hanya yang kelihatan wujudnya tapi juga, ada yang wujudnya tidak terlihat secara kasat mata namun sebenarnya ada, inilah yang disebut kebudayaan ideal atau kebudayaan gagasan. Kebudayaan ideal Korea, sebenarnya kebanyakan hanya kebudayaan ideal turunan. Berbagai macam kebudayaan diantaranya yaitu dalam hal makanan,agama,bahasa dan pakaian.

Kebudayaan yang mengalami perubahan yang menonjol adalah kebudayaan dari segi pakaian. Sejak awal adanya sistem kerajaan kebudayaan dalam berpakaian adabt diterapkan dengan sangat baik dan kental. Semua masyarakat berpakaian hanbox yang menjadi pakaian adabt bangsa korea. Sekarang sedikit demi sedikit kebudayaan dalam berpakaian hanbox mulai menghilang karna dipengaruhi oleh perkembangan zaman dan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Kebudayaan berpakaian modern menjadi salah satu budaya yang diterapkan pada saat ini.




  Rumusan Masalah

Kebudayaan-kebudayaan yang ada di bagian pendahuluan, nampaknya adalah pondasi-pondasi bagi kebudayaan Korea sekarang. Mungkin dapat dikatakan semua kebudayaan AdabtNegara korea mulai tergeser karena adanya kebudayaan berpakaian modern. Karena ingin memastikan bahwa kebudayaan Adabt mulai hilang karna pengaruh kebudayaan modern. Maka, penulis membuat makalah ini yang berjudul “Kebudayaan Adabt Negara Korea Menjadi Kebudayaan Korea Modern”
1)                  Bagaimana sejarah terbentuknya Negara korea ?
2)      Budaya apa saja yang ada di negara korea ?
3)   Bagaimana budaya pakaian Adabt Korea ?
4)   Apa saja bagian-bagian dari baju Adabt Korea ?
5)   Bagaimana perubahan pakaian Adabt Korea Menjadi Modern Korea ?





















BAB II
PEMBAHASAN

       Sejarah Terbentuknya Negara Korea
                        Nama asli Negara korea adalah Taehan Min’Guk dengan luas wilayah 98.400 km² dan jumlah penduduk sebanyak 48.289.037 jiwa. Bentuk Negara republic dengan kepala Negara Presiden, kepala pemerintahan perdana menteri, dan system pemerintahan presidensial terpusat. Ibu kota Korea Selatan adalah Seoul, dengan bahasa nasional Korea dan mata uang Korsel adalah Won. Kebanyakan penduduk Korea beragama Kristen, Buddha, dan Chongogyoisme. Lagu kebangsaan Korea Selatan adalah Aegukga.
          Sejarah awal Korea berkisar di sekitar kerajaan kuno Choson yang muncul sekitar 2.300 tahun sebelum Masehi. Pada sekitar abad ke-2 sebelum Masehi, bangsa Cina mendirikan koloni di daerah kerajaan tersebut. Namun, lima abad kemudian, bangsa Korea mengusir mereka keluar. Sejak itu, muncul sebuah kerajaan, yaitu kerajaan Silla. Kerajaan Silla (668 – 935) membawa puncak ilmu pengetahuan dan budaya yang besar. Akibat adanya kerusuhan yang terjadi di dalam negeri pada abad ke 10, dinasti Silla jatuh dan digantikan oleh dinasti Koryo. Selama periode kepemimpinan dinasti Koryo (935 – 1392), Korea mengalami banyak serbuan. Tentara Mongol yang dipimpin oleh Genghis Khan menyerbu dan akhirnya menguasai Korea sehingga Korea menjadi bagian kekaisaran Mongol.
Setelah runtuhnya Mongol pada akhir abad ke-14, berbagai golongan bangsawan dan militer berusaha memegang kekuasaan di Korea . Akhirnya, seorang jenderal yang bernama Yi Sung-Gy menghilangkan pemerintahan yang korup dan mendirikan dinasti Yi (1392 – 1910). Kongfucuisme diperkenalkan sebagai agama resmi. Reformasi politik dan social dimulai. Ibu kota negara dipindahkan dari Kaesong ke Seoul . Namun, Korea masih tetap terancam oleh Cina dan Jepang. Kedua negara tersebut ingin menguasai Korea untuk memperluas wilayah mereka. Setelah serangan yang gagal dari kepang pada tahun 1592 – 1598, Korea jatuh di bawah kekuasaan Manchu dari utara. Beberapa abad berikutnya, Korea menutup diri dari pergaulan dunia menjadi negara pertapa. Pada tahun 1800-an, Rusia, Jepang, dan Cina bersaing untuk menguasai Korea . Setelah perang Rusia – Jepang pada tahun 1904 – 1905, Jepang bergerak ke semenanjung Korea dan mendudukinya pada tahun 1910. Pada tahun 1919, penduduk Korea mengadakan demonstrasi secara damai karena menginginkan kemerdekaan. Akan tetapi, polisi Jepang membubarkannya, malah ada yang dibunuh dalam aksi tersebut.
Pada tahun 1945, di akhir perang dunia II, tentara Uni Soviet menduduki bagian utara Korea sedangkan tentara Amerika di bagian selatan. Setelah membuat suatu perjanjian, Korea dibagi sejajar dengan garis lintang 38˚. Pada bagian selatan berdirilah Republik Korea , sedangkan di daerah utara didirikan Republik Demokratik Rakyat Komunis. Pada tanggal 25 Juni 1950, tentara Korea Utara menyerang Korea Selatan dalam upaya menyatukan Korea dibawah kekuasaan komunis. Korea Utara yang memakai persenjataan yang disediakan oleh Uni Soviet menang atas Korea Selatan. Akan tetapi, atas bantuan PBB, Korea Selatan diselamatkan atas kekalahan dan pertempuran pun diakhiri dengan gencatan senjata pada bulan Juli 1953. Sejak saat itu, berbagai perundingan yang dilakukan untuk menyatukan Korea selalu gagal.
       Budaya Yang Ada Di Negara Korea

                      Budaya Perkawinan

Kebudayaan garis keluarga di Korea adalah berdasarkan atas sistem Patrilinial. Pria memegang peranan penting dalam kesejahteraan keluarga dan diwajibkan untuk bekerja. Wanita diperbolehkan untuk bekerja hanya kalau diperbolehkan oleh suami atau jika hasil kerja suaminya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tugas utama wanita adalah untuk mengasuh anak dan menjaga rumah.
Budaya perkawinan Korea sangat menghormati kesetiaan. Para janda, jika suami mereka mati muda, tidak dizinkan menikah lagi dan harus mengabdikan hidupnya untuk melayani orang tua dari suaminya. Begitu juga yang terjadi pada seorang duda yang harus melayani orang tua dari istrinya walaupun istrinya tersebut mati muda.

                     Budaya dalam hal keturunan

Dalam budaya Korea , keturunan atau anak dianggap sebagai sebuah anugerah yang amat besar dari Tuhan. Oleh karena itu, setiap keluarga disarankan untuk memiliki paling tidak seorang keturunan. Oleh karena budaya yang amat menghormati anugerah Tuhan tersebut, aborsi yang bersifat sengaja akan diberikan hukuman yang amat berat secara adapt, yaitu hukuman mati kepada sang Ibu dan orang lain yang mungkin terlibat di dalamnya, seperti suaminya (jika suaminya yang memaksa), dokter (jika dokter yang memberikan sarana untuk aborsi), dan lain-lain. Akan tetapi, secara hukum, tidak akan diadakan hukuman mati. Hukuman mati biasanya hanya dilaksanakan di daerah pedalaman Korea di mana adat masih berpengaruh secara kuat.

         Budaya Makanan

Dalam budaya Korea , ada satu makanan khas yang memiliki suatu arti yang tidak dimiliki oleh makanan lainnya. Makanan ini disebut kimchi. Di setiap session makanan, ketidakberadaan kimchi akan memberikan kesan tidak lengkap. Kimchi adalah suatu makanan yang biasanya merupakan sayuran yang rendah kalori dengan kadar serat yang tinggi (misalnya bawang, kacang panjang, selada, dan lain-lain) yang dimasak sedemikian rupa dengan bumbu dan rempah-rempah sehingga menghasilkan rasa yang unik dan biasanya pedas.

       Budaya Pakaian Adabt “Hanbox”

Hanbok (Korea Selatan) atau Chosŏn-ot (Korea Utara) adalah pakaian tradisional masyarakat Korea. Hanbok pada umumnya memiliki warna yang cerah, dengan garis yang sederhana serta tidak memiliki saku. Walaupun secara harfiah berarti "pakaian orang Korea", hanbok pada saat ini mengacu pada "pakaian gaya Dinasti Joseon" yang biasa dipakai secara formal atau semi-formal dalam perayaan atau festival tradisional.

Hwalot, pakaian pengantin
Hanbok digunakan diklasifikasikan berdasarkan peristiwanya: pakaian sehari-hari, termasuk untuk hari ulang tahun pertama anak.



Hanbok modern
Hanbok modern untuk anak-anak terbagi atas 2 atau 3 bagian dan bisa dipakai dengan mudah. Hanbok anak-anak dipakai biasanya satu atau dua kali setahun dalam perayaan chuseok atau tahun baru imlek (seolall). Pada ulangtahun pertamanya (dolljanchi) anak-anak memakai hanbok pertama merekla.

Pola tradisional hanbok memiliki kombinasi garis anggun dan warna yang menampilkan keindahan dari hanbok tersebut. Bentuk pola hewan, tumbuhan, dan pola alam lainnya ditambahkan pada pinggiran rok, maupun pada bagian luar dari kerah disekitar bahu.

       Bagian – Bagian Dari Pakaian Adabt Hanbox
Jeogori yang dipakai wanita dan pria sedikit berbeda bentuknya. Jeogori yang dipakai pria lebih besar dan panjangnya menutupi bagian tubuh atas sampai ke pinggang. Sedangkan Jeogori yang dipakai wanita hanya sampai bawah dada.
Garis kerah Jeogori yang berbentuk V itu disebut Dongjeong yang kemudian diikat dengan pita pengikat yang disebut Goreum. Jaman dulu Goreum tidak terlalu banyak detil hiasannya, tapi kalau kamu lihat Hanbok modern di Korea sekarang ini, ada begitu banyak varian warna dan bentuk Goreum yang fashionable.
Rok yang menggembung di Hanbok wanita disebut Chima. Nah Chima ini bentuknya panjang dan mengembang menutupi sebagian besar tubuh sang pemakai. Tujuannya selain untuk mengatur penampilan agar terlihat sopan, juga untuk memudahkan gerak agar lebih leluasa.
Baji adalah celana yang dipakai pria Korea dan diikat dengan pengikat bernama Daenim. Di masa kuno, orang Korea baik pria maupun wanita menggunakan Baji, khusus wanita tentunya tergantung kegiatan mereka. Dulu ukuran Baji dijadikan sebagai identitas status sosial.
Baerae adalah garis terbawah dari lengan jeogori atau magoja (jaket luar). Dengan bentuk garis melingkar yang membentuk kurva, seripa dengan garis yang terdapat pada bagian atap rumah tradisional Korea.
Beoseon adalah sepasang kaos kaki. Bentuk dari beoseon sebenarnya tidak merefleksikan perbedaan gender penggunanya, baik pria maupun wanita. Hanya saja beoseon pria memiliki pelipit lurus.
Dulu baik pria maupun wanita memelihara rambut mereka menjadi panjang. Pada saat mereka menikah, mereka mengkonde rambutnya. Pria mengkonde (mengikat) rambutnya sampai atas kepala (sangtu), sedangkan wanita mengkonde sampai batas di belakang kepala atau di atas leher belakang.


Aksesoris untuk kepala
Baik pria maupun wanita memelihara rambut mereka menjadi panjang. Pada saat mereka menikah, mereka mengkonde rambutnya. Pria mengkonde (mengikat) rambutnya sampai atas kepala (sangtu), sedangkan wanita mengkonde sampai batas di belakang kepala atau di atas leher belakang. Wanita yang berprofesi sebagai penghibur seperti kisaeng, memakai aksesori wig yang disebut gache. Gache sempat dilarang di istana pada abad ke-18. Pada akhir abad ke-19, gache semakin populer di antara kaum wanita dengan bentuk yang semakin besar dan berat.
Tusuk konde binyeo, ditusukkan melewati konde rambut sebagai pengencang atau aksesori. Bahan pembuatan binyeo bervariasi sesuai kedudukan sosial pemakainya. Wnita juga mengenakan jokduri pada hari pernikahan mereka dan memakai ayam untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin.


Pria menggunakan gat, topi yang dianyam dari rambut kuda, yang juga bervariasi model dan bentuknya sesuai status atau kelas.

BAB III
PENUTUP

            Kebudayaan adabt korea sekarang ini mulai pudar karena adanya perubahan teknologi yang semakin canggih. sehingga banyak orang yang meninggalkan kebudayaan adbat itu sendiri. salah satunya adalah kebudayaan dalam hal berpakaian, cara berpaikan hanbox saat ini mulai jarang dijumpai. masyarakat lebih memilih menggunakan pakaian modern daripada pakaian hanbox. tetapi masih ada juga yang menggunakan pakaian hanbox dalam suatu masyarakat tertentu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar